Senin, 11 Juli 2011

PROPOSAL EVALUASI PROGRAM


 PROPOSAL  EVALUASI PROGRAM
”  BAKSO TENIS PAK GENDHUT  ”
( Rahmat Sahid, Pasca UMS 2011)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pengaruh ekonomi global sangat kuat terasa pada negara berkembang seperti Indonesia. Sebagai negara berkembang, kekuatan ekonomi Indonesia sangat erat keterkaitannya dengan perekonomian negara-negara yang sudah maju. Krisis yang melanda dunia sanagt terasa dampaknya bagi Indonesia terutama dalam dunia usaha. Dunia usaha sangat menentukan ketersediaan lapangan kerja yang ada.
 Angka pengangguran di Indonesia masih relatif tinggi.  Tingginya angka pengangguran dipengaruhi oleh banyak hal, di antaranya pertumbuhan penduduk yang tinggi, semakin sempitnya lapangan pekerjaan, terjadinya pemutusan hubungan kerja, dan sebagainya.  Kondisi yang demikian tentu menjadi masalah krusial. Di satu sisi, para pengangguran sangat mengharapkan peran serta pemerintah untuk membuka lapangan kerja baru, sementara kemampuan pemerintah relatif terbatas untuk bisa menampung membludaknya pengangguran; baik penganguran karena pemutusan hubungan kerja maupun penggangguran baru; di sisi lain  pengangguran kurang proaktif dan kreatif dalam membaca peluang dan kesempatan. 
Berbagai cara diupayakan para angkatan kerja dalam mencari pekerjaan sesuai dengan tingkat pendidikan, ketrampilan dan kemampuannya. Sulit sekali pekerjaan yang sesuai dengan keinginan didapatkan dalam masa yang seperti sekarang ini. Ada yang harus mengorbankan ijazah pendidikannya, demi mendapatkan pekerjaan sehingga tidak sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Apapun pekerjaan harus dijalani untuk mendapatkan penghasilan, demi kelangsungan hidup, asalkan halal.
Mencermati kondisi yang demikian, mendorong  Pak Gendhut ( panggilan Pak Jono yang berperawakan gendhut ) warga Desa Langenharjo Rt.3 Rw. II, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati , cerdas dalam menyikapi situsi yang demikian dengan mendirikan warung bakso di pertigaan jalan dengan keramaian penuh. Desa Langenharjo tidak terlalu jauh dari pusat kota, hanya berjarak 3,5 KM dari Simpang Lima Ibukota Kabupaten Pati. Suasana transisi antara pedesaan dan perkotaan menjadikan warga prural dalam budaya, pekerjaan dan pendidikan.
Usaha “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “  merupakan salah satu program kewirausahaan yang bisa dittiru oleh para angkatan kerja yang kesulitan mencari pekerjaan. Program ini sebagai suatu jawaban bahwa bukan hanya pemilik   pemodal besar saja yang bisa membuka usaha, namun  pemodal kecil pun harus mampu membuka peluang usaha. Di samping itu juga sebagai bentuk penyadaran terhadap pemuda untuk membangun jiwa  kemandirian dan kewirausahaan. Sekecil apapun bentuk usaha, apabila dikelola dengan serius  bukan mustahil akan bisa berkembang dan bisa menjadi usaha yang besar yang bisa menyerap tenaga kerja.
Berdasarkan usaha “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “yang telah dilaksanakan Pak Jono yang berperawakan gendhut tersebut, akan  dilakukan Evaluasi Program, dengan membandingkan penerapan program tersebut dengan tujuan kegiatan yang tercantum dalam proposal kegiatan. Evaluasi ini dilakukan karena selama enam bulan program ini belum ada yang mengevaluasi .

B.     Perumusan  Masalah dan Pembatasan Masalah
 Evaluasi program yang akan dilakukan adalah  membandingkan penerapan program tersebut dengan tujuan kegiatan yang tercantum dalam proposal kegiatan.  Masalah yang akan dievaluasi adalah:
1.      Apakah rencana kegiatan usaha sudah sesuai dengan tujuan program?
2.      Apakah sasaran usaha yang diajukan dalam proposal sudah terpenuhi ?


C.     Tujuan dan Manfaat Evaluasi
Evaluasi ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang penyelenggaraan program kewirausahaan yang diselenggarakan “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “, khususnya tentang : (1) relevansi program dengan tujuan program, dan (2)  mengetahui tingkat ketercapaian  sasaran program.
Hasil Evaluasi ini diharapkan berguna bagi pembuat kebijakan baik secara teoritis maupun praktis: (1) Teoritis, diharapkan berguna sebagai bahan untuk memperjelas konsep tentang kewirausahaan, (2) Praktis, dapat dipergunakan sebagai salah satu bahan informasi kepada pihak pengambil kebijakan dalam menyelenggarakan program.






BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Pengertian Evaluasi Program
Evaluasi program mengalami perkembangan yang berarti sejak Ralph Tyler, Scriven, Marvin Alkin, R. Brinkerhoff dan lainnya. Banyaknya kajian evalusi program akan berimplikasi pada semakin banyaknya model evaluasi yang berbeda cara dan penyajiannya, walaupun  jika ditelusuri semua model bermuara kepada satu tujuan yang sama yaitu nenyediakan informasi dalam kerangka ‘decesion “  atau keputusan bagi  pegambil kebijakan.
Terdapat beberapa definisi tentang evaluai yang dikemukakan oleh pakar diantaranya:  (Kufman and Thomas, 1980:4) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses yang digunakan untuk menilai . Hal senada dikemukakan oleh (Djaali, Mulyono dan Ramly, 2000:3) mendefinisikan evaluasi sebagai kegiatan menilai sesuatu berdasarkan kriteria standar obyektif yang dievaluasi. Selanjutnya (Sanders, 1994:3), ketua The Joint Committee on Standars for Educational Evaluation mendefinisikan evaluasi sebagai kegiatan investigasi yang sistematis tentang kebenaran atau keberhasilan suatu tujuan. Sedangkan  Suharsimi Arikunto dan Cepi (2004: 3) menyebutkan bahwa evaluasi program adalah “upaya untuk mengetahui tingkat keterlaksanaan suatu kebijakan secara cermat dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi program adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil sebuah keputusan (program diteruskan, dikembangkan atau dihentikan).


B.     Usaha “Warung Bakso Tenis  Pak  Gendhut “
“Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “  termasuk golongan pedagang kaki lima / angkringan. Pedagang kaki lima sering didefinisikan sebagai suatu usaha yang memerlukan modal relatif sedikit dan berusaha dalam bidang produksi maupun penjualan untuk memenuhi kebutuhan kelompok konsumen tertentu, serta usaha dilaksanakan pada tempat-tempat yang dianggap strategis dalam suasana lingkungan informal.
      Hasil penelitian  Soeratno (2000) menunjukkan bahwa sebagian besar pedagang bakso  kaki lima / angkringan adalah pedagang angkatan kerja usia produktif. Modal pedagang kaki lima / angkringan  menurut Aris Marfai (2005)  tidak membutuhkan modal yang besar sehingga dapat terjangkau oleh masyarakat kecil. Selanjutnya Aris Marfai (2005) memaparkan bahwa pedagang bakso   kaki lima / angkringan sebagai bentuk kegiatan perekonomian kecil yang mampu bertahan ditengah sulitnya perekonomian Indonesia. Ini menandakan berperannya modal sosial (social capital) dalam perekonomian masyarakat. Disebut modal sosial  karena untuk memulai kegiatan pedagang bakso kaki lima /  angkringan biasanya dimulai dari informasi kerabat, teman, tetangga atau keluarga yang telah berjualan sebelumnya. Mereka saling membantu dalam permodalan, tempat berjualan, tempat kulakan dan lain sebagainya. Kondisi ini mengindikasikan pedagang bakso   kaki lima / angkringan telah mampu memberikan simbol bahwa modal sosial sebagai salah satu atau faktor penting dalam kegiatan bermasyarakat.
“Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “ mengandung makna sebagai cara termudah dalam promosi. Bakso Tenis  berarti bakso yang dihidangkan besar sekali, sebesar bola tenis dengan ukuran 10 kali lipat bakso biasa. Bakso yang disajikan memang spesial baik ukuran maupun bahan dasarnya. Bagian tengah isi bakso tenis berisi telor puyuh dengan balutan daging sapi yang telah digiling halus. Yang menjadi pembeda dari bakso yang lain adalah besarnya ukuran bakso dan bahan dasar pembuatannya, serta telor puyuh sebagai isinya.
Disebut “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “ karena pemiliknya berperawakan Gendhut ( Panggilan Pak Jono ), sebagai pengingat yang mudah dikenal dengan identitas nama warung tersebut. Hanya sebagai salah satu cara promosi kepada pelanggan untuk mudah dan selalu ingat bentuk bakso sebesar bola tenis, dan pak gendhut pemiliknya.
Komponen-komponen penting dari Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut   adalah gerobak dorong (angkring) yang merupkan  modal dasar usaha, tenda plastik yang digunakan sebagai atap untuk bernaung dari embun malam hari atau hujan. Jenis bakso yang disajikan juga tidak kalah pentingnya karena melalui bakso yang disajikan inilah letak daya tarik “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “ . Makanan kecil sebagai pelengkap makan bakso juga dijajakan, seperti kerupuk, piya-piya, sate telor puyuh, tahu goreng , kacang goreng . Minuman yang ditawarkan bervariasi,seperti teh hangat, es teh, es sirup, es dawet. Semua jenis makanan pelengkap  dan minuman dijual dengan harga yang relatif murah. Pembeli dari semua  kalangan, seperti tukang becak, petani, pelajar, pegawai, pedagang dan lain-lain.
“Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “dianggap sebagai tempat yang egaliter karena bervariasinya pembeli yang datang tanpa membeda-bedakan strata sosial. Mereka menikmati makanan sambil bebas ngobrol meskipun tidak saling kenal , sehingga dapat digunakan sebagai  tempat persinggahan untuk mengusir lapar atau hanya sekedar melepas lelah.

 BAB III
METODOLOGI EVALUASI

A.    Model Evaluasi
Model evaluasi yang digunakan  dalam evaluasi program ini adalah model pengambilan keputusan yang dikembangkan oleh Stuffebeam yang dikenal dengan model evaluasi CIPP, yang memuat empat tipe fungsi evaluasi yang membentuk model ini yaitu context, input, process, dan product (Isaac & MICHAEL, 1982: 6).
      Setiap hasil evaluasi diperlukan kriteria penilaian yang akan diperlukan untuk pelaksanaan analisis data. Said (1988 : 54), menegaskan bahwa ”evaluasi berhubungan dengan kriteria, dengan kriteria evaluator memberikan pertimbangan mengenai komponen yang masih memerlukan perbaikan  dan komponen yang dianggap sudah menenuhi persyaratan”. Pendapat lain dikemukakan oleh Brinkerhoff ( 1987 : xvi ) yaitu ..........the criteria to be used for the assessment of a specific of the obyect and the function of its evaluation.
      Adapun kriteria yang digunakan dalam evaluasi ini adalah pendekatan kriteria kualitatif tanpa pertimbangan, yaitu: dalam menyusun kriteria tinggal menghitung banyaknya indikator dalam komponen yang memenuhi persyaratan.

B.     Variabel yang Dievaluasi
Variabel yang dievaluasi adalah  keterlaksanaan program usaha “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “ di desa Langenharjo Rt.3 RW. Subvariabel  keterlaksanaan program usaha “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “ adalah:
1.      Relevansi program “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “ di desa Langenharjo Rt.3 RW. II. Kec. Margorejo.
2.      Tujuan program “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “ di desa Langenharjo Rt.3 RW. II. Kec. Margorejo.
 
C.     Lingkup dan Tempat Evaluasi
Evaluasi ini akan dilaksanakan pada “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “ di desa Langenharjo Rt.3 RW. II. Kec. Margorejo. yang berlokasi di pertigaan jalan  masuk desa dari arah jalan raya kota Pati menuju Purwodadi Grobogan KM. 3,5 . Evaluasi berlangsung  membutuhkan waktu kurang lebih enam  hari, dua hari untuk persiapan evaluasi dua hari untuk pengumpulan data / informasi dan dua hari untuk analisis dan pelaporan.


D.    Kisi–Kisi  Evaluasi
Deskriptor
Indikator
Relevansi Program (Usaha “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “)
1.      Kondisi perlengkapan “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “  (jenis perlengkapan, kondisi atau kualitas, penataan dan perawatan)
2.      Kualitas makanan yang dijual (jenis, banyaknya tiap jenis, kondisi makanan dan harga makanan)
Tujuan Program (Sikap Kemandirian dan Perkembangan Usaha)
1.      Kualitas layanan (sikap yang melayani, jumlah dan kualitas yang melayani, jam jualan dan cara melayani)
2.      Sirkulasi modal (modal yang dikeluarkan, keuntungan yang diperoleh, dan perputaran modal berikutnya dalam pengembangan usaha)

E.     Metode dan Instrumen Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah adalah kuesioner atau angket, observasi dan wawancara serta dokumentasi.

F.      Teknik dan Analisis Data.
1.      Triangulasi Data
Untuk memperoleh kebenaran, evaluasi ini menggunakan teknik triangulasi. Menurut Patton, triangulasi data berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode penelitian kualitatif (Moleong, 1990:178)
Triangulasi data dari penelitian ini diperoleh dengan melakukan cross-check informasi antara informan yang satu dengan informan yang lain. Adapun dari beberapa macam teknik triangulasi, maka pada penelitian ini yang akan digunakan adalah teknik triangulasi sumber. Triangulasi sumber adalah teknik yang digunakan dengan cara membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif.
Triangulasi sumber ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
a.       Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara.
b.      Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.
c.       Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.
d.      Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang, seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, dan orang pemerintahan.
e.       Membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan.
Dari kelima cara dalam proses triangulasi sumber tersebut, maka pada evaluasi ini akan  dibandingkan (1) hasil wawancara dengan hasil pengamatan, (2) perspektif berbagai pelanggan dan (3) hasil wawancara dengan dokumen yang berkaitan .

 


INSTRUMEN EVALUASI PROGRAM
USAHA” WARUNG BAKSO TENIS PAK GENDHUT”

A.    Relevansi Program (Usaha “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “)
A.1. Subvariabel Kondisi “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
1.      Letak/lokasi “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
a.       Strategis
b.      Cukup strategis
c.       Kurang strategis
2.      Kelengkapan perlengkapan “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
a.       Lengkap, terdiri atas 6-10 komponen
b.      Cukup lengkap, terdiri atas 3-6 komponen
c.       Kurang lengkap, kurang dari 3 komponen
3.       Teknik penataan/penyajian dagangan “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
a.       Rapi dan ditata sesuai jenis makanan
b.      Cukup rapi
c.       Tidak tertata baik karena makanan sekadar ditumpuk
4.      Perawatan perlengkapan “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
a.       Perawatan baik, karena setelah selesai dipergunakan perlengkapan dibersihkan.
b.      Perawatan cukup baik, karena perlengkapan dibersihkan dua hari sekali
c.       Perawatan kurang baik, karena perlengkapan  dibersihkan secara insidental
5.      Harga bakso “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
a.       Harga bakso murah dibandingkan harga di warung lain
b.      Harga bakso sama dengan harga di warung lain
c.       Harga bakso mahal karena di atas harga di warung lain

A.2 Subvariabel Kualitas Makanan “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
1.      Jenis makanan yang dijual “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
a.       Jenis makanan kecil pelengkap bakso terdiri atas  7-10 jenis
b.      Jenis makanan kecil pelengkap bakso terdiri atas 4-6 jenis
c.       Makanan kecil pelengkap bakso  yang dijual kurang dari 4 jenis
2.      Jenis minuman yang dijual “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
a.       Jenis minuman pelengkap bakso terdiri atas  5-6 jenis
b.      Jenis minuman pelengkap bakso terdiri  atas 3-4 jenis
c.       Jenis minuman pelengkap bakso kurang dari 3 jenis
3.      Kualitas bakso dan makanan kecil pelengkap yang dijual
a.       Bakso dan makanan kecil pelengkap yang dijual berkualitas baik
b.      Bakso dan makanan kecil pelengkap yang dijual berkualitas cukup baik
c.       Bakso dan makanan kecil pelengkap yang dijual berkualitas kurang baik
4.      Bahan bakso dan makanan kecil pelengkap yang dimasak
a.       Bakso dan makanan kecil pelengkap yang dimasak berkulitas baik
b.      Bakso dan makanan kecil pelengkap yang dimasak berkulitas cukup baik
c.       Bakso dan makanan kecil pelengkap yang dimasak berkulitas kurang baik

B.     Variabel Tujuan Program (Sikap Kemandirian dan Perkembangan Usaha)
B.1 Subvariabel Kualitas Layanan “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
1.      Sikap pelayan “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
a.       Pelayan ramah dan sopan
b.      Pelayan cukup ramah dan sopan
c.       Pelayan kurang ramah dan sopan
2.      Jumlah pelayan “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
a.       3 orang
b.      2 orang
c.       1 orang
3.      Jam jualan “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
a.       Pukul 10.00 - 21.00
b.      Pukul 10.00 - 18.00
c.       Pukul 10.00 - 15.00
4.      Cara melayani “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
a.       Menyapa pelanggan, mempersilakan pelanggan, menanyakan pesanan pelanggan, menyajikan pesanan, menghitung harga dengan cermat, menyampaikan terima kasih pada pelanggan.
b.      Menyapa pelanggan, mempersilakan pelanggan, menanyakan pesanan pelanggan, menyajikan pesanan, menghitung harga dengan cermat
c.       Mempersilakan pelanggan, menanyakan pesanan pelanggan, menyajikan pesanan, menghitung harga dengan cermat

B.2 Subvariabel Sirkulasi Modal “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
1.      Modal yang dikeluarkan
a.       Modal cukup untuk membuka “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
b.      Modal kurang  untuk membuka “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut “
c.       Modal sangat kurang untuk membuka “Warung Bakso Tenis  Pak Gendhut
2.      Keuntungan yang diraih
a.       Keuntungan yang diraih lebih dari Rp100.000,00 sehari
b.      Keuntungan yang diraih  antara 50.000,00 sampai Rp99.000,00 sehari
c.       Keuntungan yang diraih kurang dari Rp50.000,00 sehari
3.      Perputaran modal
a.       Modal dan keuntungan dipergunakan untuk memperbesar omset dagangan
b.      Keuntungan disimpan
c.       Belum memperoleh keuntungan
4.      Rencana pengembangan usaha
a.       Selama 6 bulan berencana membuka cabang baru
b.      Selama 12 bulan berencana membuka cabang baru
c.       Selama 2 tahun berencana membuka cabang baru


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar